Halaman

Rabu, 12 Juni 2013

3. PERBEDAAN

         

Waktu SMA gue baru sadar dan sedih kenapa gue berkulit hitam. Gue susah dapetin cewek gara-gara kulit gue hitam, gue dikucilkan oleh orang yang kulitnya tidak hitam, bahkan gue diasingkan, karena mereka pikir hitam itu menular. Waktu SMP gue pernah pacaran, pacar gue itu kulitnya putih banget, saking putih nya orang-orang bisa ngaca dikulitnya, namanya vera. Gue pikir dia albino tapi setelah diamati dan di telusuri ternyata dia original muara dua (desa tempat dia lahir). Tapi hubungan kita tidak berangsur lama, banyak cobaan menerpa hubungan kita.

Semenjak gue jadian sama vera hubungan kita punya julukan “cinta bagaikan kotoran cicak”, awalnya gue gak ngerti kenapa disebut kotoran cicak, jadi setelah mendapatkan julukan itu malamnya gue nungguin cicak boker supaya gue tau kotoran cicak itu, dan setelah menunggu 1 jam akhirnya gue melihat kotoran cicak, setelah dilihat dan gue amati kotoran cicak ini. Gue berdecak kagum betapa hebatnya maha karya tuhan, saya tidak menyesal menunggu 1 jam untuk melihat hasil sisa metabolisme cicak ini. Ternyata kotoran cicak ini begitu istimewa bentuknya lonjong kecil dan warnanya hitam putih. Kemudian saya kembali berfikir kenapa hubungan gue mendapat julukan itu, dan akhirnya gue mengerti dari sekian kotoran hewan, hanya kotoran cicak yang mempunyai warna unik seperti ini. Kemudian dari warna tersebut gue baru sadar kalo warna kotoran cicak itu diambil dari warna kulit gue dan vera.

Sudah satu bulan gue jadian sama vera dan juga sudah hampir 1 SMP yang sudah tau julukan hubungan kita, tetapi itu bukan suatu hambatan untuk gue berhenti mencintai dia. Ketika bel istirahat berbunyi, gue langsung keluar kelas kemudian menuju jendela kelas nya vera, gue ke sana setiap bel istirahat, dan setibanya gue di sana, gue langsung di suguhi dengan wajah yang merona dan senyuman yang menawan sampai-sampai gue mau pipis di celana, lalu dia datang menghampiri gue, semakin dekat langkah kaki nya menuju gue maka semakin dekat juga air pipis keluar dari celana gue karena grogi, dan pada saat dia sudah di depan gue ada temen gue yg lewat sambil teriak “taik cicak” dan teman-teman yang lain tertawa, lalu gue juga tertawa sambil menahan malu. Pada saat itu vera ngomong “aku ke kantin dulu ya sama temen-temen aku” gue sebenernya mau ikut tapi gue gak ada duid buat jajan karena gue gak pernah dikasih jajan, tapi biar gue gak malu gue bilang “yaudah kamu hati-hati ya ke kantin nya aku mau ke perpustakaan ada yang mau aku cari” dan dia tersenyum, mungkin dia kagum sama gue.

Sepulangnya dia dan teman-temannya dari kantin, gue langsung medekati nya. Lalu teman-teman dia menanyakan “kenapa sih lu mau sama dia” dan gue kaget, soalnya itu nanya nya di depan gue, pada saat itu gue langsung ngaca di jendela sambil membenarkan rambut, kemudian teman-teman nya ngeliatin gue dengan wajah yang mau muntah. Tetapi vera tetap tenang dan sabar dengan cobaan yang menimpanya. Waktu itu rasa cinta gue makin besar lalu gue baru sadar ternyata perbedaan kulit ini bukan menjadi hambatan yang sangat besar untuk menjalin kasih dan sayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar