Waktu
SMA gue baru sadar dan sedih kenapa gue berkulit hitam. Gue susah dapetin cewek
gara-gara kulit gue hitam, gue dikucilkan oleh orang yang kulitnya tidak hitam,
bahkan gue diasingkan, karena mereka pikir hitam itu menular. Waktu SMP gue
pernah pacaran, pacar gue itu kulitnya putih banget, saking putih nya
orang-orang bisa ngaca dikulitnya, namanya vera. Gue pikir dia albino tapi
setelah diamati dan di telusuri ternyata dia original muara dua (desa tempat
dia lahir). Tapi hubungan kita tidak berangsur lama, banyak cobaan menerpa
hubungan kita.
Semenjak
gue jadian sama vera hubungan kita punya julukan “cinta bagaikan kotoran
cicak”, awalnya gue gak ngerti kenapa disebut kotoran cicak, jadi setelah
mendapatkan julukan itu malamnya gue nungguin cicak boker supaya gue tau
kotoran cicak itu, dan setelah menunggu 1 jam akhirnya gue melihat kotoran
cicak, setelah dilihat dan gue amati kotoran cicak ini. Gue berdecak kagum
betapa hebatnya maha karya tuhan, saya tidak menyesal menunggu 1 jam untuk
melihat hasil sisa metabolisme cicak ini. Ternyata kotoran cicak ini begitu
istimewa bentuknya lonjong kecil dan warnanya hitam putih. Kemudian saya
kembali berfikir kenapa hubungan gue mendapat julukan itu, dan akhirnya gue
mengerti dari sekian kotoran hewan, hanya kotoran cicak yang mempunyai warna
unik seperti ini. Kemudian dari warna tersebut gue baru sadar kalo warna
kotoran cicak itu diambil dari warna kulit gue dan vera.
Sudah
satu bulan gue jadian sama vera dan juga sudah hampir 1 SMP yang sudah tau
julukan hubungan kita, tetapi itu bukan suatu hambatan untuk gue berhenti
mencintai dia. Ketika bel istirahat berbunyi, gue langsung keluar kelas
kemudian menuju jendela kelas nya vera, gue ke sana setiap bel istirahat, dan
setibanya gue di sana, gue langsung di suguhi dengan wajah yang merona dan
senyuman yang menawan sampai-sampai gue mau pipis di celana, lalu dia datang
menghampiri gue, semakin dekat langkah kaki nya menuju gue maka semakin dekat
juga air pipis keluar dari celana gue karena grogi, dan pada saat dia sudah di
depan gue ada temen gue yg lewat sambil teriak “taik cicak” dan teman-teman
yang lain tertawa, lalu gue juga tertawa sambil menahan malu. Pada saat itu vera
ngomong “aku ke kantin dulu ya sama temen-temen aku” gue sebenernya mau ikut
tapi gue gak ada duid buat jajan karena gue gak pernah dikasih jajan, tapi biar
gue gak malu gue bilang “yaudah kamu hati-hati ya ke kantin nya aku mau ke
perpustakaan ada yang mau aku cari” dan dia tersenyum, mungkin dia kagum sama
gue.
Sepulangnya
dia dan teman-temannya dari kantin, gue langsung medekati nya. Lalu teman-teman
dia menanyakan “kenapa sih lu mau sama dia” dan gue kaget, soalnya itu nanya
nya di depan gue, pada saat itu gue langsung ngaca di jendela sambil
membenarkan rambut, kemudian teman-teman nya ngeliatin gue dengan wajah yang
mau muntah. Tetapi vera tetap tenang dan sabar dengan cobaan yang menimpanya. Waktu
itu rasa cinta gue makin besar lalu gue baru sadar ternyata perbedaan kulit ini
bukan menjadi hambatan yang sangat besar untuk menjalin kasih dan sayang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar